Perhatian: Postingan ini akan tetap di update jika ada informasi terbaru

Elang jawa adalah salah satu spesies elang berukuran sedang yang endemik di Pulau Jawa. Satwa ini dianggap identik dengan lambang negara Republik Indonesia, yaitu Garuda. Dan sejak 1992, burung ini ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia.

Saat ini populasi Elang Jawa hanya tertinggal antara 300 sampai 500 ekor saja. Jika tidak dilakukan pengembangbiakan, dikhawatirkan hewan ini bisa punah,” kata Humas Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua, Yulis H Suprihardo.

Nama Ilmiah Elang Jawa

Nama ilmiah Elang Jawa adalah (Nisaetus bartelsi)

Identifikasi Elang Jawa

Awal Mula Penemuan Elang Jawa

Sesungguhnya keberadaan elang jawa telah diketahui sejak sedini tahun 1820, tatkala van Hasselt dan Kuhl mengoleksi dua spesimen burung ini dari kawasan Gunung Salak untuk Museum Leiden, Negeri Belanda. Akan tetapi pada masa itu hingga akhir abad-19, spesimen-spesimen burung ini masih dianggap sebagai jenis elang brontok.

Baru pada tahun 1908, atas dasar spesimen koleksi yang dibuat oleh Max Bartels dari Pasir Datar, Sukabumi pada tahun 1907, seorang pakar burung di Negeri Jerman, O. Finsch, mengenalinya sebagai takson yang baru. Ia mengiranya sebagai anak jenis dari Spizaetus kelaarti, sejenis elang yang ada di Sri Lanka. Sampai kemudian pada tahun 1924, Prof. Stresemann memberi nama takson baru tersebut dengan epitet spesifik bartelsi, untuk menghormati Max Bartels di atas, dan memasukkannya sebagai anak jenis elang gunung Spizaetus nipalensis.

Demikianlah, burung ini kemudian dikenal dunia dengan nama ilmiah Spizaetus nipalensis bartelsi, hingga akhirnya pada tahun 1953 D. Amadon mengusulkan untuk menaikkan peringkatnya dan mendudukkannya ke dalam jenis yang tersendiri, Spizaetus bartelsi.

Ciri – Ciri Elang Jawa

Elang yang bertubuh sedang sampai besar, langsing, dengan panjang tubuh antara 60-70 cm dan ukuran terkecil antara 56-61 cm (dari ujung paruh hingga ujung ekor) dengan rentang sayap sekitar 110-130 cm.

Kepala berwarna coklat kemerahan (kadru), dengan jambul yang tinggi menonjol (2-4 bulu, panjang hingga 12 cm) dan tengkuk yang coklat kekuningan (kadang tampak keemasan bila terkena sinar matahari). Jambul hitam dengan ujung putih; mahkota dan kumis berwarna hitam, sedangkan punggung dan sayap coklat gelap. Kerongkongan keputihan dengan garis (sebetulnya garis-garis) hitam membujur di tengahnya. Ke bawah, ke arah dada, coret-coret hitam menyebar di atas warna kuning kecoklatan pucat, yang pada akhirnya di sebelah bawah lagi berubah menjadi pola garis (coret-coret) rapat melintang merah sawo matang sampai kecoklatan di atas warna pucat keputihan bulu-bulu perut dan kaki. Bulu pada kaki menutup tungkai hingga dekat ke pangkal jari. Ekor kecoklatan dengan empat garis gelap dan lebar melintang yang tampak jelas di sisi bawah, ujung ekor bergaris putih tipis. Betina berwarna serupa, sedikit lebih besar.

Iris mata kuning atau kecoklatan; paruh kehitaman; sera (daging di pangkal paruh) kekuningan; kaki (jari) kekuningan. Burung muda dengan kepala, leher dan sisi bawah tubuh berwarna coklat kayu manis terang, tanpa coretan atau garis-garis.

Ketika terbang, elang jawa serupa dengan elang brontok (Nisaetus cirrhatus) bentuk terang, namun cenderung tampak lebih kecoklatan, dengan perut terlihat lebih gelap, serta berukuran sedikit lebih kecil.

Bunyi nyaring tinggi, berulang-ulang, klii-iiw atau ii-iiiw, bervariasi antara satu hingga tiga suku kata. Atau bunyi bernada tinggi dan cepat kli-kli-kli-kli-kli. Sedikit banyak, suaranya ini mirip dengan suara elang brontok meski perbedaannya cukup jelas dalam nadanya.

Makanan Elang Jawa

Elang Jawa biasanya memakan ular, tikus, dan hewan kecil lainnya.

Populasi Elang Jawa Saat Ini

“Saat ini populasi Elang Jawa hanya tertinggal antara 300 sampai 500 ekor saja. Jika tidak dilakukan pengembangbiakan, dikhawatirkan hewan tersebut bisa punah,” kata Humas Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua, Yulis H Suprihardo kepada “PR” Online Jumat 29 Maret 2019.

Hukum yang Melindungi Elang Jawa

Undang-Undang dan Pasal

Biawak Tak Bertelinga dilindungi undang-undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (“UU 5/1990”) memberikan definisi satwa, yakni semua jenis sumber daya alam hewani yang hidup di darat dan/atau di air, dan/atau di udara.

Kemudian, Pasal 20 ayat (1) UU 5/1990 menggolongkan jenis satwa, yang selengkapnya pasal tersebut berbunyi:

“Tumbuhan dan satwa digolongkan dalam jenis:

a. Tumbuhan dan satwa yang dilindungi;

b. Tumbuhan dan satwa yang tidak dilindungi”.

Pada dasarnya, larangan perlakuan secara tidak wajar terhadap satwa yang dilindungi terdapat dalam Pasal 21 ayat (2) UU 5/1990 yang berbunyi:

“Setiap orang dilarang untuk:

a. Menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup;

b. Menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati;

c. Mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia;

d. Memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia;

e. Mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan/atau sarang satwa yang dilindungi”.

Sanksi Pidana

Sanksi pidana bagi orang yang sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2) adalah pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak, Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) termuat dalam (Pasal 40 ayat [2] UU 5/1990).

Ada pengecualian bagi penangkapan satwa yang dilindungi tersebut, yaitu hanya dapat dilakukan untuk keperluan penelitian, ilmu pengetahuan, dan/atau penyelamatan jenis tumbuhan dan satwa yang bersangkutan. Selain itu, pengecualian dari larangan menangkap satwa yang dilindungi itu dapat pula dilakukan dalam hal oleh karena suatu sebab satwa yang dilindungi membahayakan kehidupan manusia. Membahayakan di sini berarti tidak hanya mengancam jiwa manusia melainkan juga menimbulkan gangguan atau keresahan terhadap ketenteraman hidup manusia, atau kerugian materi seperti rusaknya lahan atau tanaman atau hasil pertanian (lihat Pasal 22 ayat [1] ayat [3] dan Penjelasan Pasal 22 ayat [3] UU 5/1990).

Biawak ini Tak Bertelinga sekaligus merupakan satwa endemik Pulau Kalimantan, Indonesia yang wajib dilestrikan karena sangat langka.

Dokumentasi Elang Jawa

Video Elang Jawa

Foto Elang Jawa

Lihat juga: 922 Satwa dan Tumbuhan yang di Lindungi Undang-Undang (Terlengkap)

Referensi dan Narasumber

  1. Humas Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua, Yulis H Suprihardo Admin (2018-06-22). “Elang Jawa, Javan Hawk Eagle (JHE)”. Jenis Burung (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-03-26.
  2. MacKinnon, J. 1993. Panduan lapangan pengenalan Burung-burung di Jawa dan Bali. Gadjah Mada University Press. Jogyakarta. ISBN 979-420-150-2. Hal. 104.
  3. Sozer, R., V. Nijman dan I. Setiawan. 1999. Panduan identifikasi Elang jawa Spizaetus bartelsi. Biodiversity Conservation Project (LIPI-JICA-PKA). Bogor. ISBN 979-95862-1-6. 48 hal.
  4. Balen, S. van, V. Nijman and R. Sozer. 1999. Distribution and Conservation of Javan Hawk-eagle Spizaetus bartelsi. Bird Conservation International 9 : 333-349.
  5. Amadon, D. 1953. Remarks on the Asiatic hawk-eagles on the genus Spizaetus. Ibis 95 : 492-500.

Lihat Juga: Orangutan HOPE di Tembak 74 Peluru Tersangka Hanya di Hukum Azan 1 Bulan, Are You Kidding Me?

2 thoughts on “Terancam Punah! Burung Garuda atau Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) Tinggal 300 Ekor”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *