Perhatian: Artikel ini akan tetap diperbarui jika ada informasi terkini

Menurut sederet penelitian Situs Megalitikum Gunung Padang, salah satunya oleh tim Arkeolog UI, Ali Akbar menemukan bukti yang mengkonfirmasi hipotesis tim bahwa di bawah tanah Gunung Padang terdapat struktur bangunan buatan manusia yang terdiri dari susunan batu kolom andesit. Sama seperti struktur teras batu yang sudah tersingkap, dan dijadikan situs budaya di atas bukit. Pada tahun 2018-2019 masih diteliti untuk membuka sejarah baru situs terbesar di Indonesia ini bahkan kemungkinan di dunia.

Lokasi Situs Gunung Padang

Lokasi: Situs Gunung Padang terletak di Kelurahan Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Cianjur, Jawa Barat, Indonesia.

Peta Lokasi:

Sejarah Situs Gunung Padang

Laporan pertama mengenai keberadaan situs ini dimuat pada Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (ROD, ” Buletin Dinas Kepurbakalaan”) tahun 1914. Sejarawan Belanda, N. J. Krom juga telah menyinggungnya pada tahun 1949. 

Setelah sempat “Terlupakan”, pada tahun 1979 ditemukan kembali oleh penduduk setempat berupa situs bebatuan yang bertumpuk – tumpuk serta ada beberapa batu yang diduga merupakan alat musik / gamelan pada masa itu karena batu tersebut mengeluarkan nada bunyi sejak Maret 2011, tim peneliti Katastrofi Purba melakukan survei untuk melihat aktifitas sesar aktif Cimandiri yang melintas dari Pelabuhan Ratu sampai Padalarang melewati Gunung Padang.

Gunung Padang merupakan tinggalan megalitik punden berundak 5 (lima) yang disusun dari batuan kekar kolom (columnar joint). Keberadaan Gunung Padang dilaporkan pertama kali oleh Nicolaas Johannes Krom dalam Rapporten Oudheidkundige Dienst pada tahun 1914.

Nicolaas Johannes Krom

Penelitian Situs Gunung Padang

Salah satu peneliti Nicolaas Johannes Krom melaporkan bahwa di puncak Gunung Padang yang berdekatan dengan Gunung Melati terdapat empat teras yang disusun dari batu kasar dan dihiasi batu andesit berbentuk lingga. Di setiap teras terdapat gundukan tanah yang ditimbuni batu. Berdasarkan naskah Sunda Kuno, tempat suci semacam ini disebut dengan “kabuyutan”. Meski berasal dari masa prasejarah, tradisi megalitik ini terus berlanjut hingga masa Hindu-Buddha.

Dari serangkaian penelitian yang telah dilakukan di situs tersebut, diketahui bahwa Gunung Padang dibangun antara abad IV-XVI oleh masyarakat penganut tradisi megalitik. Hal ini juga diperkuat dari hasil uji karbon (carbon dating – C14) yang menghasilkan pertanggalan relatif, bahwa Situs Gunung Padang dibangun pada sekitar 500-200 tahun SM. Berdasarkan uji carbon dating tersebut, Gunung Padang diperkirakan sebagai tinggalan megalitik tertua dan terbesar di Indonesia.

Penampang Geolistrik Bentuk Kujang di Gunung Padang

Ketika tim melakukan survei bawah permukaan Gunung Padang diketahui tidak ada intrusi magma, kemudian penelitian dilakukan dengan metodologi geofisika, yakni geolistrik, georadar, dan geomagnet di kawasan Situs tersebut. Hasilnya, semakin meyakinkan bahwa Gunung Padang sebuah bukit yang dibuat atau dibentuk oleh manusia (man-made).

Hasil uji Carbon Dating, C14 di Laboratorium bertarap Internasional Beta Miami, di Florida AS, menerangkan bahwa karbon dari pengeboran kedalaman 5 meter sampai dengan 12 meter berusia 14.500-25.000 tahun. Dapat disimpulkan bahwa bangunan di bawah permukaan situs Gunung Padang terbukti secara ilmiah lebih tua dari Piramida Giza di Mesir yang hanya berusia 2.500 SM.Untuk lebih meyakinkan penelitian masih terus dilakukan sampai saat ini. Believe or not penelitian berikutnya akan membuktikan fakta Situs Gunung Padang & ini membuktikan bahwa Indonesia sudah berjaya sejak zaman nenek moyang. 

Penggalian Situs Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat, Indonesia

Hasil Laboratorium Beta Analytic Miami

Hasil mengejutkan dan konsisten dikeluarkan oleh laboratorium Beta Analytic Miami, Florida,minggu lalu tambahnya di mana umur dari lapisan dari kedalaman sekitar 5 meter sampai 12 meter bada bor 2 umurnya sekitar 14500 – 23000 SM/atau lebih tua. Sementara beberapa sample konsisten dengan apa yg di lakukan di Lab BATAN. Kita tahu laboratorium di Miami Florida ini bertaraf internasional yang kerap menjadi rujukan berbagai riset dunia terutama terkait carbon dating.

Kedua laboratorium ini menjawab keraguan banyak pihak atas uji sampel di laboratorium BATAN. Sebelumnya,tim riset terpadu mandiri telah melakukan uji terkait usia Gunung Padang di laboratorium BATAN, namun tidak banyak respon positif, bahkan meragukannya. Padahal hasil yang diperoleh oleh kedua laboratorium itu tidak banyak berbeda, Sudah saatnya kita percaya terhadap kemampuan dan kualitas para ilmuwan serta laboratorium nasional seperti BATAN, berikut hasil uji di kedua laboratorium tersebut:

  • Umur dari lapisan tanah di dekat permukaan (60 cm di bawah permukaan) ,sekitar 600 tahun SM (hasil carbon dating dari sampel yg diperoleh Arkeolog, Dr. Ali Akbar,anggota tim riset terpadu di Laboratorium Badan Atom Nasional (BATAN).
  • Umur dari lapisan pasir-kerikil pada kedalaman sekitar 3-4 meter di Bor-1 yang melandasi Situs Gunung Padang di atasnya (sehingga bisa dianggap umur ketika Situs Gunung Padang di lapisan atas dibuat) sekitar 4700 tahun SM atau lebih tua (diambil dari hasil analisis BATAN.
  • Umur lapisan tanah uruk di kedalaman 4 meter diduga man made stuctures (struktur yang dibuat oleh manusia)dengan ruang yang diisi pasir (di kedalaman 8-10 meter) di bawah Teras 5 pada Bor-2,sekitar 7600-7800 SM (Laboratorium BETA Miami, Florida).
  • Umur dari pasir yang mengisi rongga di kedalaman 8-10 meter di Bor-2, sekitar 11.600-an tahun SM atau lebih tua (Lab Batan).
  • Umur dari lapisan dari kedalaman sekitar 5 meter sampai 12 meter,sekitar 14500 – 25000 SM/atau lebih tua (lab BETA Miami Florida)

Penelitian Lanjutan 2013

Awal Januari – Maret 2013 Tim Terpadu Riset Mandiri yang dipimpin oleh Dr. Danny Hilman Natawidjaja (ahli kebumian), Dr. Ali Akbar (arkeolog), Dr. Andang Bachtiar(paleosedimentolog) kembali melakukan penelitian dan survei lanjutan, menyatakan bahwa, di bawah permukaan Gunung Padang: Ada struktur geologi tak alamiah, dengan hipotesis Teknologi canggih zaman purba. Untuk membuktikan hal tersebut, dilakukan penggalian arkeologi dan survei geolistrik detil di sekitar penggalian lereng timur bukit, di luar pagar situs cagar budaya.

Tim Dr. Ali Akbar menemukan bukti yang mengkonfirmasi hipotesis tim bahwa di bawah tanah Gunung Padang ada struktur bangunan buatan manusia yang terdiri dari susunan batu kolom andesit, sama seperti struktur teras batu yang sudah tersingkap, dan dijadikan situs budaya di atas bukit. Terlihat di kotak gali permukaan fitur, susunan batu kolom andesit ini sudah tertimbun lapisan tanah setebal setengah sampai dua meter yang bercampur bongkahan pecahan batu kolom andesit. Kotak gali arkeologi tim tersebut memperlihatkan permukaan bangunan yang disusun dari batu-batu kolom andesit yang sudah tertutup oleh lapisan tanah dengan bongkah-bongkah pecaan batuan. Batu kolom ini posisinya memanjang sejajar.

Batu-batu kolom andesit disusun dengan posisi mendekati horizontal dengan arah memanjang hampir barat-timur (sekitar 70 derajat dari utara ke timur – N 70 E), sama dengan arah susunan batu kolom di dinding timur-barat teras satu, dan undak lereng terjal yang menghubungkan teras satu dengan teras dua. Dari posisi horisontal batu-batu kolom andesit dan arah lapisannya, dapat disimpulkan dengan pasti, bahwa batu-batu kolom atau “columnar joints” ini bukan dalam kondisi alamiah.

Batu-batu kolom hasil pendinginan dan pelapukan batuan lava/intrusi vulkanis di alam maka arah memanjang kolomnya akan tegak lurus terhadap arah lapisan atau aliran seperti ditemukan di banyak tempat di dunia. Kenampakan susunan batu-kolom yang terkuak di kotak gali memang terlihat sangat rapi dan menyerupao kondisi alami.

Di akhir 2012 lalu, tim arkeolog lain yang bekerja terpisah dan sudah ikut menggali menyimpulkan batu-batu kolom andesit di bawah tanah Gunung Padang merupakan sumber batuan alamiahnya, mungkin karena mereka belum mempertimbangkan aspek geologinya dengan lengkap, dan juga tidak mengetahui data struktur bawah permukaan seperti diperlihatkan oleh hasil survei geolistrik.

Kondisi Gunung Padang Saat ini

Saat ini kondisi Situs Gunung Padang mengalami ancaman kerusakan akibat erosi dan tanaman liar yang tumbuh disekitar situs. Banyak batu punden yang lepas, miring, aus, terkelupas, retak, patah, dan jatuh di lereng dan kaki bukit. Ada beberapa bagian dari struktur punden yang menggelembung dan menjorok ke luar sebagai akibat dari genangan air, desakan akar, serta longsor. Terjadi juga pelapukan batuan karena pertumbuhan ganggang, jamur kerak, lumut, dan tumbuhan lainnya.

Selain faktor alam, ada pula kerusakan yang disebabkan oleh kegiatan pengunjung, misalnya vandalisme, menggores batu dengan benda keras, menduduki, menginjak batu, memukul-mukul batu, menggeser dan memindahkan batu, serta akitivitas wisata lainnya yang tidak terkendali turut serta menyebabkan berubahnya susunan struktur aslinya. Situs Gunung Padang saat ini menjadi destinasi wisata yang penting di Kabupaten Cianjur dengan jumlah kunjungan sedikitnya 200-300 orang per minggu dan meningkat ketika musim liburan sekolah tiba. Di puncak bukit terdapat menara pandang dan beberapa warung milik penduduk sedangkan di kaki bukit terdapat warung, lapangan parkir, dan fasilitas pariwisata lainnya.

Status Situs Gunung Padang

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 139/M/1998, lahan tempat struktur utama dimiliki oleh negara seluas 17.196,52 m² dan lahan disekitarnya dimiliki dan/atau dikuasai oleh masyarakat maupun Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.

Tinggalan Megalitik Gunung Padang dan lingkungannya seluas 17.196,52 m² yang dikuasai oleh negara tersebut berada dibawah pengelolaan Balai Pelestarian Cagar Budaya Serang, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Situs Gunung Padang di Ajukan ke UNESCO

Dikutip dari situs resmi Universitas Indonesia bahwa Arkeolog UI, Ali Akbar, dan tim saat ini tengah merancang dokumen untuk mengusulkan Situs Gunung Padang sebagai warisan budaya dunia. Berdasarkan penelitian yang ia lakukan, serta merujuk pada penelitian-penelitian yang dilakukan para peneliti sebelumnya, Situs Gunung Padang termasuk ke dalam karya jenius kreatif manusia yang sesuai dengan standar UNESCO.

Untuk bisa diajukan ke UNESCO, sebuah situs harus memiliki nilai-nilai universal yang luar biasa, dan SItus Gunung Padang sudah memenuhi hal ini. Hasil penelitian yang dilakukan di Situs Gunung Padang membuktikan bahwa ada sebuah bangunan yang luar biasa yang dibangun oleh bangsa Indonesia ribuan tahun sebelum masehi.

“Bangsa Indonesia sudah punya peradaban yang cukup tinggi dan cukup tua dibandingkan peradaban lain yang ada di dunia,” kata Ali Akbar pada Seminar “Situs Gunung Padang Menuju Warisan Budaya”, Kamis (19/7/2018) di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Kampus UI Depok.

Mendapat dukungan dari Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) UI dan berdiskusi dengan sejumlah pihak, ia sekaligus ingin membuktikan bahwa pada masanya bangsa Indonesia sudah berhasil membuat bangunan yang spektakuler.

“Menurut saya ini untuk bukti kemanusiaan,” lanjutnya.

Pada 2012, Ali Akbar dan tim yang terdiri dari para peneliti lintas disiplin ilmu melakukan penelitian di Situs Gunung Padang dengan menggunakan sejumlah metode dan teknik, seperti citra satelit, georadar, geoelektrik, pengeboran, dan analisis karbon.

Hasil penelitian pada sampel pertama yang diambil dari teras 2 pada kedalaman 3,5 meter menunjukkan bahwa lapisan karbon di sana berasal dari 5.500 tahun Sebelum Masehi (SM). Selain itu, dengan luas 15 hektar, Situs Gunung Padang ditemukan memiliki luas 10 kali Candi Borobudur, serta 3 kali lebih tinggi dari Candi Borobudur.

Ali Akbar dan tim kemudian menyimpulkan bahwa masyarakat pada saat itu telah mengenal teknologi pemilahan, penyusunan, dan penguatan bangunan. Masyarakat masa itu dinilai juga telah memiliki pengetahuan serta manajemen kerja yang efektif.

Tampak Situs Gunung Padang

Berikut dokumentasi Gunung Padng, mulai dari tampilan atas, batu yang mengeluarkan bunyi, tampak Gunung Padang di kedalaman 10 meter bawah tanah, Persentasi Gunung Padang dll.

Referensi, Narasumber dan Informasi

[1] Gunung Padang, Kemendikbud.go.id
[2] Gunung Padang Megalitikum, SSRN https://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=1112242
[3] Situs Gunung Padang – Misteri Dan Arkeologi, Garis Buku
[4] Tim Riset Mandiri dan Arkeolog UI, Ali Akbar
[5] Peneliti UI Dorong Situs Gunung Padang Jadi Warisan Budaya Dunia, http://www.ui.ac.id

Lihat juga: Sejarah Gunung Karakatau Purba Yang Membuat Pulau Jawa Terpisah Menjadi Dua, Menciptakan Pulau Sumatera

31 thoughts on “Situs Megalitikum Gunung Padang Lebih Tua dari Piramida Giza di Mesir”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *