Perhatian: Artikel ini akan tetap diperbarui jika ada informasi terkini

Sejarah / Tradisi – Ritual Ma’nene adalah ritual tradisional di Tana Toraja dimana jenazah leluhur keluarga Toraja akan dibersihkan, digantikan baju dan kainnya. Ma’ Nene’ merupakan sebuah ritual adat dalam budaya suku Toraja.

Namun, menurut beberpa media, bahkan turis manca negara menyebut tradisi unik ini sebagai “The Walking Dead Ma’nene” atau Mayat Berjalan Ma’nene. Berikut kami ulas mengenai sejarah, dokumentasi, ritual dan lain-lain.

Sejarah Tradisi Ma’nene Toraja

Ma’nene adalah salah satu ritual adat yang bertujuan untuk menghormati para leluhur yang telah meninggal. Ritual ini dilaksanakan di beberapa daerah di Tana Toraja, Sulawesi Selatan dengan rentan waktu berbeda-beda tergantung dengan kesepakatan / musyawarah para petuah” adat dan masyarakat. Ritual ini adalah proses pembersihan makam baik berupa pakaian yang digunakan oleh jenazah maupun peti yang telah rusak.

Menurut masyarakat setempat awal mula di adakannya ritual Ma’nene berawal dari seorang pemburu binatang bernama Pong Rumasek, warga Toraja ratusan tahun lalu. Ketika itu, Pong Rumasek sedang berburu hingga memasuki kawasan hutan lindung Pegunungan Balla. Di tengah perburuan, Pong Rumasek,  menemukan mayat seseorang dalam keadaan meninggal dunia.

Mayat tersebut tergeletak di tengah jalan di dalam hutan lebat dalam kondisi mengenaskan. Pong Rumasek merasa tergugah dan ingin merawatnya. Mayat tersebut lalu dibungkus dengan baju yang dipakainya. Setelah merasa aman, Pong Rumasek kemudian melanjutkan perburuannya.

Ada yang aneh, Semenjak kejadian itu, setiap kali Pong Rumasek mengincar binatang buruan, selalu dengan mudah mendapatkan buruannya, termasuk jenis buah-buahan di hutan. Kejadian aneh tersebut kembali terulang ketika Pong Rumasek pulang menuju rumah. Ladang tanaman yang dia tinggalkan, tiba-tiba panen lebih cepat dan dengan hasil melimpah.

Sejak banyak kejadian itu, setiap saat berburu ke hutan Pong Rumasek selalu menemui mayat yang telah dirawat dan sudah dibungkus. Terkadang mayat tersebut sering diajak berburu ketika saat menggiring binatang.

Akhirnya Pong Rumasek pun berkesimpulan bahwa jasad orang yang meninggal dunia harus tetap dimuliakan, meski itu hanya tinggal tulang belulangnya. Maka sering diadakan setiap satu tahun sekali sehabis panen besar sekitar bulan Agustus, setiap penduduk Baruppu di Tana Toraja selalu mengadakan acara ritual Ma`nene, upacara pemakaman untuk menghormati leluhur, dan tak lain mendiang Pong Rumasek.

Menurut masyarakat setempat bahwa jika salah satu pasangan suami istri meninggal dunia, maka pasangan yang ditinggalkan mati tidak diperbolehkan menikah sebelum mengadakan ritual Ma`nene. Masyarakat setempat menganggap bahwa sebelum melaksanakan ritual Ma`nene, status mereka masih sebagai pasangan suami istri. Namun, jika sudah melakukan ritual Ma`nene, maka pasangan yang masih hidup dianggap sudah bujangan dan berhak untuk kawin lagi.

Kebudayaan Ritual Ma`nene sendiri dilakukan satu tahun sekali, tradisi Ma’nene sekaligus merupakan satu-satunya warisan leluhur yang masih dipertahankan secara rutin hingga sekarang. Kesetiaan mereka terhadap amanah leluhur melekat pada setiap warga desa setempat. Penduduk Desa Baruppu khususnya percaya jika ketentuan adat yang diwariskan jika melanggar maka akan mendatangkan musibah yang akan melanda desa mereka. Seperti gagal panen atau terdapat salah satu keluarga yang akan menderita sakit berkepanjangan. Demikian Sejarah singkatnya.

Dokumentasi Tradisi Ma’nene Toraja

Lihat juga: Situs Megalitikum Gunung Padang Lebih Tua dari Piramida Giza di Mesir

Ritual Sebelum Upacara Ma’nene Toraja

Beberapa Ritual Sebelum Upacara Ma’nene dan sesudah pembersihan jenazah dilakukan, diantaranya:

  • Musyawarah pembukaan liang kubur
  • Pembersihan dan Pembukaan liang kubur
  • Proses Ziarah meliputi: -Dikeluarkannya Jenazah dari Liang, -Pembersihan Jenazah
  • Penutupan Liang
  • Acara makan bersama
  • Ibadah

Informasi dan Narasumber

  1. Luther Sampe Tondon (Sekertaris Lembang, Desa Lempo Poton. Toraja Utara/ Keluarga Pelaksanaan adat Manene’)
  2. Ruben Limbu (Kepala Desa Lembang, Desa Lempo Poton. Toraja Utara)
  3. Ikhsan. Tradisi Ma’nene. Instagram/dwijulianiksan.30/11/2018
  4. Yosua. Sejarah Ma’nene. 30/11/2018

Lihat juga: Sejarah Gunung Karakatau Purba Yang Membuat Pulau Jawa Terpisah Menjadi Dua, Menciptakan Pulau Sumatera

4 thoughts on “Sejarah Tradisi Mengganti Pakaian Mayat Ma’nene Toraja”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *