Sejarah – Situs Candi Sukuh terletak di Kelurahan Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa tengah. Situs ini dibangun diatas lahan seluas 5.395 m². Beberapa bangunan yang dibangun diatas lahan seluas tersebut diantaranya adalah Candi Induk Sukuh yang memiliki luas 586 m². Situs Candi Sukuh diperkirakan dibangun pada masa akhir Kerajaan Majapahit, yaitu abad ke-15, pada masa pemerintahan Ratu Suhita (1429-1446). Situs Candi Sukuh pertama kali ditemukan oleh Johnson pada tahun 1815 dibawah masa kepemimpinan Jenderal Raffles. Laporan Johnson mengenai penemuan candi yang terletak di lereng barat Gunung Lawu ini selanjutnya dimuat dalam buku The History of Java karangan Thomas S. Raffles. Pada tahun 1845, Situs Candi Sukuh diteliti oleh Van de Vlis yang memunculkan berbagai tafsiran mengenai makna Situs Candi Sukuh, di antaranya candi para pertapa yang erat kaitannya dengan tokoh Bhima sebagai penghubung antara manusia dengan Siwa.Candi Sukuh berlatar belakang agama Hindu melambangkan kesuburan karena patung & relief banyak menggambarkan organ vital. Berbeda dengan umumnya candi Hindu di Jawa Tengah. Upaya pelestarian Candi Sukuh telah dilakukan sejak jaman Belanda. Pemugaran pertama dilakukan oleh Dinas Purbakala pada tahun 1917. Pada akhir tahun 1970-an Candi Sukuh mengalami pemugaran kembali oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan hingga 2016.

Situs Candi Sukuh terdiri atas 3 halaman teras, semakin ke belakang semakin tinggi karena mengikuti kontur tanahnya. Tata letak Situs Candi Sukuh terbagi menjadi 3, yaitu teras pertama berada pada lahan paling bawah, teras kedua di tengah, dan teras ketiga yang paling tinggi terdapat candi induk. Masing-masing teras dibatasi dengan pagar batu candi dan untuk memasuki masing-masing teras harus melalui gapura.

Teras ke-1
Halaman I Situs Candi Sukuh berdenah empat persegi panjang. Di halaman ini terdapat tiga buah panel relief. Panil pertama menggambarkan seorang laki-laki sedang menunggang seekor gajah dikawal oleh pengiring yang membawa tombak; panil kedua menggambarkan 4 ekor gajah; dan panil ketiga menggambarkan seorang laki-laki menunggang kuda dikawal oleh lima orang bersenjata tombak dan seorang yang berdiri di depan membawa payung. Gapura di halaman pertama ini berbentuk paduraksa, dihiasi hiasan kala di ambang pintu sisi luar dan dalam. Pada lantai gapura terdapat relief lingga dan yoni yang digambarkan secara naturalistis. Pada pipi gapura terdapat relief raksasa sedang menelan manusia yang diintepretasikan sebagai sengkalan memet berbunyi gapura bhuta mangan wong atau sama dengan tahun 1359 Saka. Selain relief tersebut, dinding gapura juga dihiasi relief sepasang burung yang hinggap di atas sebatang pohon. Di bawah pohon terdapat seekor anjing, serta relief seseorang sedang berlari dan menggigit ekor seekor ular yang diduga sebagai sengkalan memet berbunyi gapura bhuta anahut buntut atau sama dengan tahun 1359 Saka. Pada dinding gapura juga terdapat relief yang melukiskan seekor garuda dengan sayap terbuka sedang mencengkeram dua ekor ular yang saling melilit yang dihubungkan dengan kisah Garudeya.

Teras ke-2
Pada halaman kedua terdapat reruntuhan gapura dan beberapa arca. Di halaman sisi selatan terdapat panil relief tiga orang pandai besi dan ububan. Relief dalam panil ini memiliki keunikan yaitu salah satu tokohnya berkepala gajah berdiri pada kaki kanannya dan menggigit ekor binatang yang merupakan sengkalan memet berbunyi gajah wiku anahut buntut atau berarti angka tahun 1378 Saka (1456 Masehi). Adapun beberapa arca yang terdapat di halaman ini antara lain arca Garuda, Bhima, kura-kura, dan gajah.

Teras ke-3
Pada halaman ketiga, yaitu halaman yang dianggap paling sakral, terdapat gapura, struktur utama, dan struktur Candi Sukuh. Gapura halaman ketiga letaknya berhadapan dengan struktur utama Situs Candi Sukuh. Adapun struktur utama Situs Candi Sukuh berukuran 15 x 15 meter. Di sisi atas tangga pintu dipahatkan delapan ekor naga berlilitan dua-dua, membentuk bujur sangkar. Di bagian atas candi yang datar terdapat sisa umpak untuk menempatkan sebuah lingga berangka tahun 1362 Saka (1440 Masehi) yang kini disimpan di Museum Nasional. Di depan tangga struktur utama terdapat sepasang arca kura-kura yang dibentuk sedemikian rupa sehingga bagian badannya menyerupai meja. Di depan Candi Sukuh terdapat struktur bangunan kecil dengan pintu menghadap ke barat, yang dinamai “Candi Kyai Sukuh” oleh penduduk setempat. Dinding struktur ini dihiasi relief cerita Bhimaswarga di bagian dinding tubuh bangunan. Cerita Bhimaswarga menceritakan Bhima membebaskan arwah Pandu, Madrim, orang tuanya, dan arwah-arwah lainnya dari siksaan neraka setelah mengalahkan Dewa Yama. Bhima dilukiskan sebagai “wakil” Siwa untuk menolong manusia yang berusaha untuk mencapai moksa (upacara diksa). Hal ini ditunjukkan oleh bagian akhir relief Bhimaswarga yang menggambarkan Siwa memberi botol (tempat amrta) kepada Bhima. Selanjutnya, di sebelah kanan struktur Candi Sukuh terdapat lapik dengan empat sisa tiang berhiaskan relief serta sebuah tugu dengan relief lengkung Kala-mrga di atas panil. Terdapat relief cerita Nawaruci di bagian bawah lengkung yang menggambarkan adegan Bhima berhadapan dengan Bhatara Guru (Siwa). Dalam lengkung bagian bawah masih terdapat relief “lahirnya Bhima”. Di bagian tengah lengkung Kala-mrga dihiasi kepala kala.

Baca juga: Beginilah Peripih Candi Sukuh

Di dekat panil relief Kala-mrga terdapat tugu batu yang terpotong bagian puncaknya. Di bagian bawah tugu tersebut digambarkan tokoh Garuda yang sedang mengembangkan sayapnya. Pada sisi sebelah selatan struktur utama Situs Candi Sukuh terdapat sebuah tiang (obelisk) berukuran tinggi 4 meter, dihiasi relief seperti relief-relief lain yang belum dapat diidentifikasikan. Relief tersebut menggambarkan seorang laki-laki berdiri di lapik, dengan tanda kesucian (prabhavali) berbentuk bulat melingkari tubuhnya. Selain relief cerita Garudeya, Samudramanthana, dan penggambaran tokoh resi, di Situs Candi Sukuh juga terdapat relief Bhimabungkus, relief Sundamala, dan relief pandai besi. Cerita Sundamala dipahat di panil-panil lepas yang dahulunya memagari kolam untuk upacara diksa dengan air. Salah satu kisah Bhimabungkus menggambarkan adegan Bhima sedang berperang melawan raksasa, pada sudut atas panil tersebut ada inskripsi berbunyi “bukut tirtha sunya” yang berarti “menghormati air suci (untuk mencapai) kehampaan”. Secara umum kondisi Situs Candi Sukuh dalam keadaan baik dan terawat. Namun bagian selatan Situs Candi Sukuh mengalami longsor dan saat ini sedang dilaksanakan pemugaran untuk memperkuat bagian pondasi.

Berikut beberapa relief yang terdapat di Candi Sukuh:

Relief Dua Manusia

Relief dua figure manusia dipahat berurutan dari atas ke bawah. Keduanya dengan ekspresi muka seram tampak pada penggambaran mata bulat, mulut terbuka sehingga tampak gigi taringnya, tangan kanan memegang senjata. Sikap duduk kakang sehingga tampak kemaluan yang berukuran besar. Relief tersebut dipahat di kanan- kiri ambang masuk pintu 1.

Relief Sengkalan “Gapura Buta Aban Wong”

Relief menggambarkan seseorang yang dimakan raksasa dipahatkan pada dinding depan sisi utara dan mempunyai arti Sengkalan Memet. Sengkalan tersebut berbunyi : “Gapura buta aban wong” = 1359 Çaka  atau 1437 Masehi. Selain itu juga terdapat hiasan berupa sepasang burung sedang hinggap pada sebatang pohon dan dibawahnya digambarkan seekor binatang anjing (?)

Sengkalan Memet ” Gapura Bhuta Nahut Bu(n)tut”

Dinding Gapura I sisi depan sebelah selatan terdapat relief seorang tokoh laki-laki (raksasa?) sedang berlari dan menggigit seekor ular. Di atasnya terdapat hiasan mahluk sedang melayang-layang dan paling atas terdapat hiasan seekor binatang melata. Relief ini oleh K.C. Crucq di baca juga sebagai Sengkalan Memet yang berbunyi “Gapura bhuta nahut bu(n)tut” = 1359 Çaka atau 1437 Masehi.

Relief Kala

Relief lain yang dipahatkan pada pintu masuk adalah kepala kala, yakni pada ambang pintu masuk baik sisi depan maupun belakang. Kepala kala candi Sukuh unik karena digambarkan berjanggut panjang, sehingga membedakannya dengan kepala kala di candi-candi lain. Selain keunikan ornamen, terdapat keunikan lain yakni bidang tempat penempatan pahatannya. Kepala kala Candi Sukuh dipahat masuk kedalam langit-langit atap.

Relief Garuda

Dinding utara maupun dinding selatan Gapura I Candi Sukuh terdapat relief seekor garuda dengan sayap terbuka sedang mencengkeram dua ekor ular. Relief ini tentunya berhubungan juga dengan relief – relief yang terdapat pada teras lain, yang menggambarkan cerita Garudeya.

Relief Kemaluan Laki-Laki

Salah satu relief yang cukup menarik ialah yang dipahatkan pada lantai pintu masuk gerbang pertama. Relief ini berupa gambar phallus  ( kemaluan laki – laki ) di hadapkan pada kemaluan wanita yang berbentuk seperti segitiga dihiasi dengan semacam karangan bunga. Oleh para sarjana, relief tersebut dianggap sebagai lambang kesuburan. Namun demikian selain sebagai lambang kesuburan, relief ini sebenarnya juga merupakan permulaan (pangkal) dari relief – relief berikutnya, terutama yang berhubungan dengan cerita Çuddhamala dan Garudeya.

Baca Juga: Penggambaran Cerita Samudramanthana di Candi Sukuh dan Arca Kura-Kura

Fungsi Candi Sukuh

Mengenai fungsi Candi Sukuh sebenarnya dapat di lihat dari relief, susunan bangunan, arca dan prasasti. Dengan melihat relief di Candi Sukuh yang antara lain berisi cerita Çuddhamala dan Garudeya, dapat di ketahui bahwa bangunan Candi Sukuh berhubungan dengan upacara pelepasan. Fungsi candi sebagai pelepasan ini diperkuat lagi oleh isi sebagian prasasti-prasastinya. Juga dengan melihat arca-arcanya seperti misalnya arca kura-kura dan arca garuda.

Lebih memperkuat kenyataan tersebut, lebih jauh lagi dapat dilihat bahwa upacara pelepasan itu berhubungan sangat erat dengan kepercayaan terhadap arwah leluhur. Sedang kita tahu bahwa unsur pemujaan terhadap arwah leluhur, dapat dilihat juga pada susunan bangunanya. Kompleks Candi Sukuh di susun dalam bentuk teras-teras yang mengingatkan kepada bentuk punden berundak pada zaman prasejarah. Bangunan punden berundak mempunyai fungsi utama sebagai tempat pemujaan arwah leluhur, dengan demikian jelas bahwa kepercayaan ini nampaknya berlangsung dan berkembang terus di Indonesia, mulai dari zaman prasejarah sampai zaman pengaruh Hindu, bahkan sampai pada zaman sesudahnya.
Tokoh Garuda, kura-kura dan Bhima memegang peranan penting dalam lakon ini. Karena itu garuda, kura-kura dan bhima tidak hanya direliefkan saja tetapi juga dinyatakan dalam bentuk arca.

Garuda sebagai tokoh pembebas atau yang dapat meruwat Winata yaitu ibunya dari penghambaanya pada Kadru. Sedangkan tokoh Bhima terkenal dalam cerita Çuddhamala. Bhima sebagai pahlawan yang gagah berani dapat membunuh raksasa.

Konsep Candi Sukuh

Candi Sukuh yang terletak di lereng Gunung Lawu merupakan candi Hindu yang dibangun pada saat keemasan Hindu mulai berakhir. Candi mempunyai hubungan yang kuat dengan kepercayaan Indonesia asli yaitu kepercayaan pada nenek moyang. Hal ini dapat dilihat dari setting Candi Sukuh yaitu bangunan utama/suci berada di teras ketiga yang menghadap langsung dengan puncak lereng Lawu. Seperti juga diketahui bahwa punden berundak juga menghadap ke puncak gunung atau bukit. Masyarakat pada masa lalu percaya bahwa roh-roh nenek moyang mereka bersemayam di tempat-tempat tertentu, salah satunya adalah tempat tinggi yaitu dipuncak-puncak gunung. Roh-roh nenek moyang ini bersemayam dan masih menjaga anak cucunya.

Baca juga: Penggambaran Cerita Samudramanthana di Candi Sukuh dan Arca Kura-Kura

Kompleks Candi Sukuh dengan dilatarbelakangi oleh puncak Gunung Lawu terbagi menjadi tiga teras. Teras tersebut membujur ke belakang, semakin kebelakang semakin tinggi. Bangunan utama dan paling sakral terletak di teras paling belakang. Tata letak ini sedikit berbeda dengan sebagian besar komplek candi-candi di Jawa Tengah. Tata letak kompleks sebagian besar candi di Jawa Tengah adalah konsentris yaitu tempat yang paling suci/pemujaan terdapat di tengah atau di pusat. Jika diamati, konsep tata letak Candi Sukuh cenderung mirip dengan tata letak pura di Bali. Pura di Bali juga terdiri atas tiga bagian yaitu yang Jaba, Jaba Tengah dan Jeroan. Tempat paling suci terletak di bagian paling belakang. Bangunan suci Hindu / Budha atau yang umumnya disebut sebagai candi merupakan replika dari kosmos.  Kosmos sendiri  terbagi ke dalam tiga bagian, yaitu profane, semi sakral, dan sakral atau bhurloka (dunia bawah), bhuwarloka (dunia tengah), dan swarloka (dunia atas).

Konsep candi sebagai replika kosmos yaitu atap candi di pandang sebagai swarloka, badan candi dipandang sebagai bhuwarloka dan kaki candi dianggap bhurloka. Jika konsep ini dipakai di Candi Sukuh maka sebagai swarloka adalah puncak Gunung Lawu, sebagai bhurwaloka adalah bangunan-bangunan suci yang berada di kompleks Candi Sukuh dan bhurloka adalah manusia dalam arti yang sesungguhnya yang hidup disekitarnya.

Daftar Pustaka:

[1] Diambil dari Buku Peninggalan Arkeologis di Lereng Gunung Lawu terbitan BPCB Jateng

[2] Diambil dari Buku Peninggalan Arkeologi Lereng Barat Gunung Lawu.

[3] https://cagarbudaya.kemdikbud.go.id/public/objek/detailcb/PO2016031700008/candi-sukuh

[4] https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjateng/relief-di-gapura-i-candi-sukuh-ini-penjelasannya/

[5] Prof. Dr. R.M. Ng. Poerbatjaraka, 1952, Kapustakan Djawi. Djakarta: Djambatan.

[6] Suwarno Asmadi (Pemandu Wisata) dan Haryono Soemadi, 2004, Candi Sukuh. Antara Situs Pemujaan dan Pendidikan Seks. Surakarta: C.V. Massa Baru.

[7] P.J. Zoetmulder, 1983, Kalangwan. Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan.

[8] https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjateng/konsep-ruang-candi-sukuh/

One thought on “Sejarah Candi Sukuh Yang Menggambarkan Alat Vital Manusia Sebagai Bentuk Kesuburan”

  1. ZFN Liker, Status Auto Liker, Autolike International, auto like, auto liker, autoliker, Autolike, Autoliker, autolike, Photo Liker, Photo Auto Liker, Autoliker, Increase Likes, Status Liker, Working Auto Liker, Auto Like, Auto Liker

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *