Rinjani Eruption dengan editing latar Dewi Anjani (Sketsa)

Sejarah – Dikutip dari situs Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), dalam kurun 1846-2015, diketahui ada 12 kali Gunung Rinjani meletus. Letusan Gunung Rinjani tercatat pertama adalah pada tahun 1846. Sedangkan yang terakhir, diketahui tahun 2015, adapun letusan umumnya menghasilkan lava dan jatuhan piroklastik.

1. Tahun 1846

Zollinger mengatakan, bahwa dalam tahun 1846 kegiatan G. Rinjani dalam stadia fumarola, selanjutnya letusan yang terjadi berlangsung di dalam Kaldera Rinjani (G. Barujari dan G. Rombongan/Mas).

2. Tahun 1884Dalam Natuurkunding Tijdschrift voor Nederl. Indie, v. 45, mencantumkan bahwa asap dan nyala api tampak pada beberapa hari pertama bulan Agustus.

3. Tahun 1901

Pada 1 Juni, pukul 23.00 terdengar suara ledakan, dan malam berikutnya di Mataram terjadi hujan abu tipis.

4. Tahun 1906

April, pukul 21.15 terdengar suara ledakan.

5. Tahun 1909

Pada 30 November, pukul 21.15 hujan abu di Lombok yang berlangsung hingga 2 Desember. Setelah itu tampak kegiatan meningkat berupa asap tebal yang mengepul. Air sungai tampak keruh.

6. Tahun 1915

Pada 4 November tampak tiang asap.

7. Tahun 1944

  • 30 Mei terlihat asap di atas puncak G. Rinjani. Menurut Petroeschevsky kegiatan mulai pada 25 Desember 1943.
  • Pukul 16.00 terdengar suara gemuruh yang disusul dengan hembusan asap tebal. Pada malam hari tampak sinar api dan kilat sambung-menyambung. Gempa bumi terasa terjadi antara 25 – 30 Desember disertai suara gemuruh. Hujan abu turun selama 7 hari dengan lebatnya, merusak tanaman dan rumah.
  • G. Rombongan atau G. Mas muncul dari dalam danau (2110 m) yang berada di kaki G. Barujari sebelah baratlaut, melebar ke utara dan barat.
  • Mitrohartono (1969) menghitung, bahwa jumlah bahan baru yang dikeluarkan waktu itu adalah sebanyak lk. 7,4 x 107 m3. Kusumadinata (1969, 1973) dengan menggunakan rumus Yokoyama (1956 – 1957) telah menghitung Energi Kalor yakni 2,3 x 1024 erg, sedangkan Kebesaran Letusan adalah 8,98 dan Kesetaraan Bom Atomnya 273,8.

8. Tahun 1966

  • 28 Maret Pulau Lombok digoncang gempabumi. Sejak itu terdengar suara dentuman berasal dari Segara Anak.
  • 21 Mei terlihat dari puncak G. Punduk, bahwa di sebelah selatan kepundan G. Baru tempak ke luar pasir dari dasar Segara Anak menuju ke utara dan melebar ke barat dan timur. Persentuhan pasir panas dengan air Segara Anak menyebabkan terjadinya suatu kukusan, asap mengepul.
  • Kusumadinata (1969), mengatakan bahwa yang disebut pasir panas ini pada hakekatnya adalah lava baru yang muncul di lereng G. Barujari sebelah timur, yang mencapai Segara Anak di utara dan Segara Endut di selatan.
  • Mitrohartono (1969) telah menghitung luas penyebaran lava sebesar 954.350 m2 dan isi 6,6. 106 m3. Kusumadinata (1969) menghitung Energi Kalornya ialah 2,1. 1021 erg, Kebesaran Letusan 6,44 dan Kesetaraan Bom Atom 250,0.

9. Tahun 1994

  • 4 Juni, pkl. 02.00 WITA terjadi suatu ledakan sangat kuat yang berasal dari dalam Kaldera Rinjani, terdengar hingga di Desa Sembalun. Pukul 08.00 terlihat asap hitam tebal membumbung ke udara mencapai tinggi 400 m dari puncak G. Plawangan. Pada 6 Juni, pkl 17.40 Wita terjadi hujan abu di sekitar Pos Pengamatan dengan ketebalan endapan 2 – 3 mm. Titik letusan mengambil tempat di G. Barujari dan berlangsung hingga awal bulan Januari 1995.
  • Letusan tersebut tidak menyebabkan korban jiwa, hanya petani bawang di Sembalun gagal panen karena rusak oleh hujan abu. Volume material letusan sebesar 15.036.405,07 m3, dengan energi thermal sekitar : 4,7 X 1023 erg.

10. Tahun 2004  

Terjadi letusan abu pada bulan oktober.

11. Tahun 2009 

Tanggal 2 Mei 2009 pukul 16.01 WITA terjadi letusan asap pada berwarna coklat pekat mencapai ketinggian 1000 meter di atas titik letusan di G. Barujari disertai suara dentuman lemah. Aliran lava mengalir dari titik letusan masuk ke dalam Danau Segara Anak.

12. Tahun 2015

  • Tinggi Letusan Mencapai 3.500 Meter – 1000 Meter
    Atas Kawah Barujari
  • Gempa Tremor Terjadi 5-10 Detik
  • 25 Oktober Gunung Rinjani Sudah Bersetatus Awas
  • Sejumlah 13 Penerbangan Air Asia Terganggu
  • Penerbangan Australia Ke Bali Di Tutup Akibat Abu Vulkanik

KARAKTER LETUSAN

Tidak jelas kapan terbentuknya Kaldera Rinjani, tetapi bila melihat sebaran batuapung yang sangat luas, menandakan bahwa letusan G. Rinjani pada waktu itu sangatlah dahsyat, sehingga terbentuk lubang kaldera yang sangat besar. Dari sejarah letusan dan material yang dikeluarkan selama terjadinya letusan adalah endapan lava dan endapan jatuhan piroklastik serta endapan aliran piroklastik, hal ini mencirikan bahwa sifat letusan G. Rinjani adalah Strombolian yang diiukuti dengan aliran lava. Kegiatan vulkanik G. Rinjani purna kaldera telah berpindah ke dalam kaldera.

GEOLOGI

Morfologi utama G. Rinjani adalah morfologi kaldera dan kerucut gunungapi. Morfologi kaldera berbentuk elip, dengan kemiringan lereng 60 – 80 derajat. Batuan dasarnya adalah lava dan jatuhan piroklastik. Morfologi kerucut gunungapi menempati bagian dalam kaldera serta tebing dinding kaldera, yaitu kerucut G. Barujari, G. Rombongan, Rinjani, serta kerucut G. Manuk. Kemiringan lereng berkisar antara 30 – 70 derajat, dengan pola aliran sungai radial, sedangkan batuan dasarnya adalah jatuhan piroklastik. Sedangkan morfologi perbukitan tinggi dan morfologi punggungan rendah-bergelombang masing-masing terletak di timur, barat serta bagian lereng puncak komplek Rinjani dan lereng bawah komplek Rinjani. Masing-masing morfologi kedua terakhir dicirikan dengan memiliki tebing yang terjal dengan sudut lereng 30 – 80 dan sudut lereng kurang dari 30 derajat.

Berdasarkan catatan sejarah letusan, G. Rinjani memiliki 3 masa kegiatan, yaitu kegiatan sebelum pembentukan kaldera (pra kaldera), masa pembentukan kaldera dan masa sesudah pembentukan kaldera. Batuan yang dihasilkan pada perioda Pra Kaldera didominasi oleh endapan lava yang tersebar hampir kesegala arah, dengan pusat erupsinya berasal dari beberapa lokasi dari tua ke muda yaitu: Produk G. Rinjani Tua, G. Kondo G. Sangkareang dan G. Rinjani. Batuan-batuan tersebut tersebar dari baratlaut kaldera, lereng bagian selatan, ke arah utara dan yang produk batuan yang lebih muda sebagian besar tersebar ke arah tenggara, timur hingga timurlaut.

BATUAN GUNUNGAPI PEMBENTUKAN KALDERA

Produk kaldera merupakan hasil letusan paroksismal Gunung Rinjani Tua, menghancurkan bagian puncak G. Rinjani Tua. Letusan tersebut menghasilkan sebuah kaldera berbentuk ellip dengan diameter 2,4 x 4,8 km. Endapan yang dihasilkan dari letusan yang dahsyat tersebut adalah endapan aliran piroklastik dan jatuhan piroklastik. Batuan aliran piroklastik terendapkan ke arah selatan dan utara merupakan endapan yang terluas dibandingkan hasil letusan yang lainnya, hal ini dimungkinkan, karena letusan ini merupakan letusan yang sangat kuat. Penyusun endapan batuan aliran piroklastik didominasi oleh fragmen batuapung, selain itu juga terdapat fragmen litik dan scoria.. Endapan jatuhan piroklastik tersebar luas di bagian puncak kaldera yang tersusun dari batuapung berukuran pasir sampai kerikil serta litik, berwarna putih kotor, fragmen scoria umumnya berwarna abu kehitaman, dibeberapa tempat dijumpai adanya perlapisan yang baik (graded bedding).

BATUAN GUNUNGAPI PURNA KALDERA

Setelah terbentuknya Kaldera Rinjani, kegiatan gunungapi berpindah ke bagian dalam kaldera yaitu ke G. Barujari dan G. Rombongan. Kegiatan letusan di dalam kaldera dimulai dengan pembentukan G. Barujari. Batuannya dicirikan dengan lava yang masif, sebagian telah teralterasi berwarna kuning hingga merah kecoklatan, secara umum berwarna abu-abu terang, bersifat basal, sebagian pada permukaan dijumpai lava bloken dengan lubang-lubang bekas gas serta permukaannya kasar. Kegiatan G. Barujari yang terakhir terjadi dalam tahun 1994 yang menghasilkan lava serta jatuhan piroklastik. Lava tersebar ke arah baratlaut hampir menutupi G. Rombongan,sedangkan yang ke barat masuk kedalam danau Segara Anak. Lavanya adalah lava bloken dengan permukaan yang kasar lubang bekas gas. Pembentukan G. Rombongan (G. Mas) terjadi pada tahun 1944 mengambil tempat di kaki bagian baratlaut G. Barujari. Batuan umumnya tersusun dari endapan lava yang tersebar ke bagian utara hingga barat.

STRUKTUR GEOLOGI

Van Bemmelen (1949) menyatakan bahwa struktur pulau Lombok bagian utara merupakan kelanjutan Zona Solo dari P. Jawa yang merupakan pembentukan bagian puncak jalur geantiklin. Zona Solo ke bagian timur tersingkap di P. Lombok bagian barat dengan basementnya tertutupi oleh intrusi plutonik, dan struktur ini berakahir di P. Lombok. Blown (1974, dalam Nasution dkk, 1984) menafsirkan bahwa struktur P. Lombok pada akhir Tersier atau awal Kuarter terdapat beberapa struktur sesar yang arahnya bervariasi, sesar-sesar yang berarah baratdaya – timurlaut, selatan baratdaya – utara timurlaut dan utara – selatan kemungkinan sesar aktif bergerak sejak Tersier hingga Kuarter. Berdasarkan hasil survey gaya berat regional, terdapat struktur sesar yang berarah utara timurlaut – selatan baratdaya. Sedangkan berdasarkan hasil penafsiran kelurusan pada citra landsat menunjukan arah kelurusan selatan baratdaya – utara timurlaut.

GEOFISIKA

Pengamatan kegempaan G. Rinjani dilakukan secara menerus di Pos Pengamatan yang berada di Sembaluan Lawang. Gempa yang terekam adalah gempa vulkanik dalam, vulkanik dangkal, tektonik lokal dan gempa tektonik jauh. Hasil pengamatan kegempaan dari tahun 1998 hingga April 2011 disajikan dalam grafik di bawah ini.

                        Kegempaan G. Rinjani dari tahun 1998 – 2010
GEOKIMIA
Analisa kimia batuan G. Rinjani (Suyatna dan Hardjadinata).

Hasil analisa batuan yang dilakukan terhadap batuan lava dari lava 1944 adalah basalt andesit dan basalt, sedangkan lava 1966 adalah berjenis basalt. Analisa kimia yang dilakukan terhadap beberapa contoh batuan dari setiap produk letusan adalah sebagai berikut :

Tekstur batuan lava-lava G. Rinjani umumnya porfiritik dengan fenokris plagioklas, piroksen dan olivin. Analisa kimia terhadap conto batuan yang tersebar di bagian tubuh G. Rinjani, jumlah conto batuan yang dianalisa sebanyak 17 conto batuan, maka hasil analisa kimia batuan menunjukan bahwa silika (SiO2) antara 48,95% – 56,86%, kandungan TiO2 kurang dari 1 (satu) %, hanya 2 conto yang mempunyai harga 1,02% dan 1,04% ini adalah suatu fenomena bahwa lava G. Rinjani terdapat pada busur kepulauan. Berdasarkan diagram Le Maitre 1989 (SiO2 terhadap K2O), komposisi batuan G. Rinjani umumnya basalt – basalt andesit.

Berdasarkan komposisi kimia, seri G. Rinjani termasuk ke dalam kerabat Kalk-Alkalin yang unsur K-nya sangat tinggi. Komposisi umumnya berkisar antara basaltis sampai andesitis. Dalam tabel berikut disajikan analisa kimia beberapa sample lava dari nilai silica terendah hingga tertinggi.

KAWASAN RAWAN BENCANA GUNUNGAPI

Peta Kawasan Rawan Bencana G. Rinjani dibagi dalam tiga tingkat kerawanan dari tinggi ke rendah yaitu Kawasan Rawan Bencana III, Kawasan Rawan Bencana II dan Kawasan Rawan Bencana.

Kawasan Rawan Bencana III

Kawasan Rawan Bencana III adalah kawasan yang sangat berpotensi terlanda awan panas, aliran lava, lontaran batu (pijar), kemungkinan base surge dan atau gas beracun. Kawasan ini dibedakan menjadi dua, yaitu : a. Kawasan rawan terhadap aliran masa berupa awan panas, aliran lava, kemungkinan base surge dan gas beracun. b. Kawasan rawan terhadap lontaran batu (pijar), hujan abu lebat, dan kemungkinan hujan lumpur (panas). Kawasan Rawan Bencana III digambarkan dalam peta dengan warna merah tua solid (tegas) untuk kawasan rawan terhadap aliran massa dan lingkaran garis putus-putus warna yang sama untuk kawasan rawan terhadap lontaran dan hujan abu dengan radius 3 km dari pusat erupsi.

Kawasan Rawan Bencana II
  1. Kawasan Rawan Bencana II adalah kawasan yang berpotensi terlanda awan panas, aliran lava, lontaran batu (pijar), hujan abu lebat, hujan lumpur panas, dan gas beracun.
  2. Kawasan ini dibedakan menjadi dua, yaitu : a. Kawasan rawan bencana terhadap aliran masa berupa awan panas, aliran lava, dan gas beracun. b. Kawasan rawan bencana terhadap material lontaran batu (pijar), hujan abu lebat, dan hujan lumpur (panas. Kawasan Rawan Bencana II dalam peta digambarkan dalam warna pink solid (tegas) untuk kawasan rawan terhadap aliran massa dan lingkaran garis putus-putus dengan warna sama untuk kawasan rawan terhadap lontaran dan hujan abu (lebat) dengan radius 5 km dari pusat erupsi.
Kawasan Rawan Bencana I

Kawasan Rawan Bencana I adalah kawasan yang berpotensi terlanda lahar, tertimpa material jatuhan berupa hujan abu. Apabila letusan membesar, kawasan ini berpotensi terlanda hujan abu, dan kemungkinan lontaran batu (pijar). Kawasan ini dibedakan menjadi dua, yaitu : a. Kawasan rawan bencana terhadap aliran masa berupa lahar. Kawasan ini terletak di sepanjang lembah dan bantaran sungai, terutama yang berhulu di daerah puncak. b. Kawasan rawan terhadap material jatuhan berupa hujan abu tanpa memerhatikan arah tiupan angin. Kawasan Rawan Bencana I terhadap hujan abu mencapai jarak 8 km dari pusat erupsi. Kawasan Rawan Bencana I terhadap aliran massa dalam peta digambarkan dengan warna kuning solid (tegas), sedangkan terhadap lontaran dan hujan abu digambarkan dalam bentuk lingkaran putus-putus berwarna sama dengan radius 8 km dari pusat erupsi.

Peta Kawasan Rawan Bencana G. Rinjani
APRIL 2018
GUNUNG RINJANI RESMI MENJADI UNESCO GLOBAL GEOPARK

Pada sidang Unesco Executive Board di Paris, Geopark Rinjani kini resmi sebagai anggota baru UNESCO Global Geopark. Setelah perjuangan yang cukup panjang, kawasan Gunung Rinjani di NTB akhirnya ditetapkan menjadi geopark dunia.

Menteri Pariwisata berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu pencapaian Rinjani sebagai geopark dunia tersebut. Tanda-tanda Gunung Rinjani akan menjadi Global Geopark sebenarnya telah terlihat, yaitu saat NTB ditunjuk sebagai tuan rumah Asia Pasific Geopark Network Symposium. Atau, pertemuan seluruh anggota Geopark se-Asia Pasific pada 2019.

“Secara de facto, Gunung Rinjani sudah masuk menjadi geopark dunia sejak ditunjuknya NTB menjadi tuan rumah kegiatan Asia Pasific Geopark Network Symposium pada 2019. Namun pengumuman resminya dikeluarkan pada April 2018. Sedangkan penyerahan piagam sebagai anggota baru geopark dunia akan dilaksanakan di Italia, September 2018,”

Semoga informasi ini bermanfaat, subscribe untuk menambah wawasan dengan informasi bermanfaat setiap harinya.

DAFTAR PUSTAKA
Foden, J.D and R. Varne, The Geochemistry and Petrology of the basal - andesitic - dacite suite from Rinjani Volcano, Lombok. Proc. Of the CCOP - IOC SEATAR The geology and Tectonic of Eastern Indonesia, 1981 : 115 - 134.

Hendrasto M, dkk, 1992, Laporan Kegiatan Pemetaan Geologi Komplek Rinjani, Lombok, Nusatenggara Barat, Direktorat Vulkanologi.

Imam Santosa, Iman KS (1994), Laporan Penyelidikan Petrokomia G. Rinjani, Bulan Juni 1994, No. 85/DV/94, Direktorat Vulkanologi.

Iing Kusnadi, dkk, 1994, Laporan Pengamatan Gempa dan Pemeriksaan Kawah G. Rinjani, Juni - September 1994, No. 67/DV/1994, Direktorat Vulkanologi.

Kusumadinata K, 1979, Data Dasar Gunungapi, Direktorat Vulkanogi

Nasution A., dkk, 1984, Geologi Panas Bumi Daerah Sembalun, Lombok Timur, NTB, Sub Dit. Panas Bumi, Direktorat Vulkanologi.

Ruska Hadian (1995), Laporan Pengumpulan Bahan Informasi dan Dokumentasi G. Rinjani, P. Lombok, Propinsi Nusa Tenggara Barat, Bulan Juni 1995, No. 17/DV/96, Direktorat Vulkanologi

Suparto S, 1981, Seismologi Gunungapi, Direktorat Vulkanologi.

Priatna, dkk, 1994, Laporan Penyelidikan Kimia Gas dan Air G. Rinjani Nusatenggara Barat, Direktorat Vulkanologi.
 
Referensi Lanjutan:
[*] https://goo.gl/7aaV7f
[*] https://goo.gl/BsYucM
[*] https://goo.gl/tJPU4B
[*] https://goo.gl/ktWFrf
[*] https://goo.gl/iivWEh
[*] https://goo.gl/X3qrKS
[*] https://goo.gl/PTGKkn
[*] https://goo.gl/hrujRD
[*] https://goo.gl/6DixJG
[*] https://goo.gl/ugxmnX

[*] https://goo.gl/qZyQuG
[*] https://goo.gl/bVsDKG
[*] https://goo.gl/fWLq6e
[*] https://goo.gl/zdYVn4
[*] https://goo.gl/fKhWpq
[*] https://goo.gl/DwJVzB
[*] https://goo.gl/KL6DKd
[*] https://goo.gl/XiRJ9Q
[*] https://goo.gl/4g1Bxv

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *