Pesut (Orcaella brevirostris) / Foto: Pinterest
Pesut mahakam (Orcaella brevirostris) adalah sejenis hewan mamalia yang sering disebut lumba-lumba air tawar yang hampir punah karena berdasarkan data tahun 200.

Pesut mempunyai kepala berbentuk bulat (seperti umbi) dengan kedua matanya yang kecil (mungkin merupakan adaptasi terhadap air yang berlumpur). Tubuh pesut berwarna abu-abu sampai wulung tua, lebih pucat dibagian bawah – tidak ada pola khas. Sirip punggung kecil dan membundar di belakang pertengahan punggung. Dahi tinggi dan membundar; tidak ada paruh. Sirip dada lebar membundar.

Pesut bergerak dalam kawanan kecil. Walaupun pandangannya tidak begitu tajam dan kenyataan bahwa pesut hidup dalam air yang mengandung lumpur, namun pesut merupakan ‘pakar’ dalam mendeteksi dan menghindari rintangan-rintangan. Barangkali mereka menggunakan ultrasonik untuk melakukan lokasi gema seperti yang dilakukan oleh kerabatnya di laut. 


Populasi hewan ini terus menyusut akibat habitatnya terganggu, terutama makin sibuknya lalu-lintas perairan Sungai Mahakam, serta tingginya tingkat erosi dan pendangkalan sungai akibat pengelolaan hutan di sekitarnya. Kelestarian Pesut Mahakam juga diperkirakan terancam akibat terbatasnya bahan makanan berupa udang dan ikan, karena harus bersaing dengan para nelayan di sepanjang Sungai Mahakam.
Peneliti pesut Mahakam dari yayasan Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) berkewarganegaraan Belanda, Danielle Kreb, yang meneliti pesut lebih dari 20 tahun terakhir ini menerangkan Dahulu, di era tahun 1970 sampai 1980-an, masyarakat bisa dengan mudah melihat Pesut Mahakam di hilir Sungai Mahakam, seperti di tengah Kota Samarinda. 

Seiring waktu, kini masyarakat tidak mudah lagi menemukannya, sebab pesut Mahakam bergeser ke hulu Sungai Mahakam di Kabupaten Kutai Kartanegara. “Itu artinya, pakan mereka ikan-ikan kecil, sudah tidak ada lagi di Sungai Mahakam di tengah Kota Samarinda. Mereka bergerak ke hulu sungai, mencari makan. Di mana banyak ikan kecil, di situ ada pesut. Jadi, urusan pakan, memang jadi faktor utama,” kata Danielle.

7, populasi hewan tinggal 50 ekor saja dan menempati urutan tertinggi satwa Indonesia yang terancam punah. Secara taksonomi, pesut mahakam adalah subspesies dari pesut(Irrawaddy dolphin).


Tidak seperti mamalia air lain yakni lumba-lumba dan ikan paus yang hidup di laut, pesut mahakam hidup di sungai-sungai daerah tropis. Populasi satwa langka yang dilindungi undang-undang ini hanya terdapat pada tiga lokasi di dunia yakni Sungai Mahakam, Sungai Mekong, dan Sungai Irawady.

Pesut ini ditemukan di banyak muara-muara sungai di Kalimantan, tetapi sekarang pesut menjadi satwa langka. Selain di Sungai Mahakam, pesut ditemukan pula ratusan kilometer dari lautan, yakni di wilayah Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Habitat hewan pemangsa ikan dan udang air tawar ini dapat dijumpai pula di perairan Danau Jempang (15.000 ha), Danau Semayang (13.000 ha), dan Danau Melintang (11.000 ha).



Peta Sungai Mahakam, Tempat Asli Populasi Pesut

Faktor lainnya, lalu lalang tugboat yang menarik kapal ponton batubara. Menurut Danielle, perilaku pesut akan merasa sangat bising dan tidak bisa memantulkan gelombang sonar, sehingga bergerak menjauhi kebisingan. “Kalau di Sungai Mahakam, tidak berpengaruh besar dengan pesut, karena sungai lebar. Tapi justru yang mempengaruhi populasi pesut sekarang, lalu lalang ponton batubara di anak sungai. Saya harap, keberadaan ponton di anak sungai bisa dihindari,” ujar Danielle.

Referensi Informasi:[] https://goo.gl/dysYhZ /01-09-2018[] https://goo.gl/w4GyKc /01-09-2018
[] https://goo.gl/oMkST3 /18-09-2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *