Sejarah – Sampai tahun 2014, Lukisan Gua tertua berasal dari Eropa, dengan usia sekitar 30.000-32.000 tahun dari Hewan Paleolitik Puncak yang ditemukan di Gua Chauvet di Lembah Sungai Ardeche di Prancis. Namun, penemuan lukisan di Sulawesi, Indonesia menyanggah penemuan lukisan Gua Tertua tersebut.
Berikut video lengkapnya:

Pada September 2014, para ilmuwan, Dr. Maxime Aubert, dari Universitas Griffith di Queensland, Australia, yang ikut serta meneliti umur lukisan itu menerangkan bahwa salah satu di antaranya kemungkinan lukisan sejenis yang paling kuno di dunia.

Para ilmuan mengkonfirmasi bahwa beberapa lukisan Gua yang ditemukan di Sulwesi berusia 40.000 sampai 50.000 tahun, namun lebih diperkuat 40.000 tahun. Lukisan ini terdiri dari sidik jari stensil (mirip dengan lukisan tangan yang ditemukan di tempat lain di seluruh dunia), dan lukisan binatang lokal yakni Babi Rusa.

Mengenai gambar tangan, ada tradisi purba masyarakat setempat yang menyebutkan, gambar tangan dengan jari lengkap bermakna sebagai penolak bala, sementara tangan dengan empat jari saja, berarti ungkapan berduka-cita.

Melihat hasil gambar yang tampak presisi, analisis yang mengatakan bahwa gambar itu dibuat dengan cara menempelkan tangan ke dinding Gua, lalu disemprotkan dengan cairan berwarna merah. Zat pewarna ini mungkin berasal dari mineral merah (hematite) yang banyak terdapat di sekitar Hua, atau dari getah pohon yang dikunyah seperti sirih.

Temuan lukisan berusia 40.000 tahun di Sulawesi ini menunjukkan kemampuan menciptakan karya seni berasal dari Afrika, sebelum manusia modern menyebarkannya ke seluruh dunia.

“Landasan karya seni di Sulawesi ini berasal dari 60.000 tahun lalu dan bahkan telah ada di Afrika sebelum 60.000 tahun lalu dan menyebar melalui manusia modern,” kata Stringer. Sementara itu, Dr Muhammad Ramli, pakar arkeologi, mengatakan lukisan di Maros ini terkikis polusi akibat industri lokal.

“Pada awal tahun 1980an, banyak lukisan gua di situs ini dalam bentuk stensil tangan, seperti yang Anda lihat sekarang. Dan banyak yang rusak,” kata Muhammad. “Perlu dilakukan studi konservasi untuk mencari cara terbaik dalam menjaga situs-situs ini sehingga lukisan yang ada tetap bertahan, penemuan ini masih akan terus direvisi”.

 

Referensi:

Refrensi Dokumentasi:
[*] https://goo.gl/MsX9Lz
[*] https://goo.gl/3KyqBW
[*] https://goo.gl/NKAdPw
[*] https://goo.gl/ngH8F9
[*] https://goo.gl/cTR6YS
[*] https://goo.gl/2MVDn8
[*] https://goo.gl/85TZNk
[*] https://goo.gl/xzmMSq
[*] https://goo.gl/SQhsF2
[*] https://goo.gl/9AZw8s
[*] https://goo.gl/VF8sPU
[*] https://goo.gl/s75PFy
[*] https://goo.gl/K4UBFR

Informasi:
[*] https://goo.gl/bVwTkS
[*] https://goo.gl/ZucsG1
[*] https://goo.gl/jhsMRX
[*] https://goo.gl/LdEFxA
[*] https://goo.gl/HXWhkt
[*] https://goo.gl/gprG3b
[*] https://goo.gl/pSL2oj
[*] https://goo.gl/7SkGxe
[*] https://goo.gl/vc1vTd
[*] https://goo.gl/ebt1om
[*] https://goo.gl/cjPozo

Loksi:
- Rammang-Rammang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia
- Gua Leang-Leang, Kecamatan Batimurung Maros, Sulawesi Selatan, Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *