Sungai pada umumnya memiliki gelombang kecil, namun di wilayah semenanjung Kampar ombak sungai air tawar ini dapat mencapai ketinggian 5 sampai 7 meter. 

Dahulu Sungai Bono menjadi tempat yang ditakuti pasalnya sungai ini kerap memakan korban jiwa. Bahkan sejak zaman nenek moyang sungai ini dijuluki “Sungai 7 hantu” dimana terdapat 7 lapis gelombang yang siap menghantam tepian. Adapun mitos yang berkembang di gelombang tersebut akan terlihat hantu putih.

Di Papua namanya “Kepala arus” hanya terjadi di sekitar muara Sungai Digul. Penomena ini akan terlihat di titik pertemuan dengan Sungai Mappi. Perlu diketahui pula bahwa Sungai Digul merupakan sungai terpanjang di Papua di bagian selatan Pulau Papua. 

Hulu sungai ini adalah Pegunungan Sterren di bagian timur gugusan pegunungan tengah Papua dan bermuara di Laut Arafura. Bila kepala arus memang serupa dengan ombak Bono, maka fenomena ini dipicu pertemuan sungai beraliran deras dengan laut. 

Fenomena ini terekam dalam buku Memoar Seorang Eks-Digulis, sebuah buku kisah pelarian Mohamad Bondan, pejuang kemerdekaan yang kabur dari Kamp Pembuangan Belanda di Digul.

“…Saya mendengar suara gemuruh yang sangat keras. Dalam pikiran langsung menduga itu adalah suara pesawat Jepang yang meraung-raung di hutan belantara. Saya melihat ujung kali yang memang lurus sejauh mata memandang, tampak garis kecil membelok ke sebelah kiri…. Dari arah sungai tampak gelombang berwarna putih menyerupai dinding besar menggulung-gulung. Inilah kepala arus…”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *